Strategi Serangan Balik Buat Indonesia Terus Tertekan

Asalkan awd pemain memahami tugas masing-masing seperti yang diuraikan tadinya, superioritas jumlah pemain maka akan tampak lagi beberapa detik kemudian. Tapi cerita maka akan berbeda jika lawan patut cerdik dengan lebih kern untuk menutup passing side of the road daripada melakukan man showing. Cara ini akan mempermudah pressing block lawan melancarkan transisi horizontal dan menihilkan situasi kalah jumlah player jika bola berada di flank. Umumnya pendekatan terkait memang diawali dengan pressing block menyempit ke sedang, yang ditujukan untuk memancing agar bola dialirkan ke flank, baru setelah itu pressing dilakukan. Winger yang tidak turun juga tidak merupakan berarti tidak akan bisa membantu rekan fullback dalam bawahnya.

Mungkin tiga bek akan menjadi mainstream pula jika di waktu itu mereka bisa menjadi pemenang, namun hal itu nyatanya memang belum bisa terwujud. Di situasi ini inferioritas jumlah pemain lawan memulai terlihat samar dan maka akan dibutuhkan sedikit keberanian untuk pemain kita untuk telah mengalirkan bola. Tapi dalam harus tetap diingat, keunggulan jumlah pemain masih nyata di pihak penyerang, meskipun dalam beberapa detik akan tidak kelihatan.

Sampai sekarang pun dari minim tim yang memakai skema tiga bek, masih akhirnya menjadi yang paling mendominasi. Formasi ini juga terbukti tena bisa bersaing di period sepakbola modern, seperti dalam contoh Juventus dan Belanda di atas. Tapi permasalahannya, mereka belum sampai akhirnya menjadi yang terbaik dengan akhirnya menjadi juara.

Perlu stamina luar lumrah bagi sang gelandang untuk terus bisa bergerak menyamping membantu winger, tapi sayangnya kala itu Indra Sjafri hanya memiliki satu saja Zulfiandi. Pendekatan lain yg juga merupakan yang paling pesimis adalah dengan bukan menaikkan kedua fullback sama sekali. Fullback tidak akan melakukan overlap, atau sanggup naik tapi hanya hingga batas tertentu, tidak peduli dengan bagaimana situasi fase menyerang yang sedang didapat oleh enam pemain terdepan. Dengan begini tentu tertentu tidak akan ada masalah dalam fase transisi negatif karena selalu ada empat pemain di belakang. Solusi standar dari masalah ini umumnya dengan membuat fullback untuk naik bergantian.

Banyaknya tim yang mengalami problem ini tiada lain tidak terlalu mengejutkan, karena lubang dalam fase transisi negatif merupakan bawaan alami dari sistem empat bek. Problem muncul dikarenakan eksekusi ideal dari sistem empat bek dalam fase menyerang adalah dengan mengijinkan masing-masing fullback untuk melakukan terme conseill├ę dengan merangsek naik ke depan. Bisa kita lihat jika bentuk tiga pemain di belakang seperti terkait bisa menghubungkan lebih tidak sedikit pemain untuk melakukan sirkulasi online. Tapi diantara beberapa variasi tersebut, musim ini Paulo Sousa di Fiorentina memiliki varian yang sepertinya dapat menjadi penantang yang cukup sepadan untuk skema empat bek yang sebelumnya sudah mapan. Fiorentina memainkan formasi, dengan dipadu beberapa pergerakan yang membuat sistem yang dipakai begitu fleksibel, sekaligus sangat bagus ketika melakukan dua fase transisi.

Jika satu fullback naik, jadi fullback lainnya tetap di belakang, untuk menjaga agar bukan kurang dari tiga pemain yang berada di lini belakang. Solusi ini cukup bagus, karena bentuk serangan akan tetap bisa memperoleh solusi lebar lapangan ataupun overload di area flank, tapi juga tetap memiliki pemain yang cukup pada belakang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*